Wanita - Wanita Perkasa

Posted by Ainuna Collection 08 October 2009



(ditulis oleh Sinta Tjandradjaja - muda-fashion.com)

Muda-Fashion.Com.  Di sepanjang sejarah peradaban manusia, wanita-wanita perkasa datang dan pergi dengan meninggalkan jejak yang dalam. Meskipun kalah dari segi kuantitas, beberapa dari mereka sanggup merubah jalannya sejarah. Ada yang bersenjatakan pena dan otak seperti Ibu Kartini. Ada yang secara harafiah menyandang senjata dan terjun ke medan perang seperti Cut Nyak Dien dan Joan of Arc. Ada pula yang hanya bersenjatakan kasih seorang ibu seperti kisah hidup Christin Collins (yang diangkat ke layar lebar tahun 2008 dengan judul “Changeling” dan diperankan oleh Angelina Jolie). Jika kita bisa menarik benang merah dari para wanita perkasa ini, mereka semua adalah para visioner atau orang-orang yang memiliki visi dan bertekad bulat untuk meraihnya. Nothing can stop them!



R.A. KARTINI

Dilahirkan pada tanggal 21 April 1879 dalam sebuah keluarga ningrat menjadi “berkat sekaligus kutuk” dalam perjalanan hidup seorang gadis muda berjiwa bebas ini. Meskipun sangat kritis dan berani dalam mengemukakan pendapat, Kartini muda bukanlah anak remaja yang suka melawan orangtua seperti remaja jaman sekarang. Dalam kesempitannya, Kartini masih berusaha menularkan semangat belajarnya kepada sekelompok kecil gadis ningrat yang bernasib sama seperti dirinya. Banyak kaum feminis menyayangkan keputusannya menerima lamaran dari seorang pria yang sudah beristri (bahkan lebih dari satu). Mungkin mereka tidak mampu melihat bahwa keputusan itu bukanlah dibuat atas dasar keputus-asaan seorang Kartini. She’s just too smart to be foolish. Secara politis, hal ini untuk mendukung ayahnya – bagaimanapun Kartini adalah anak yang sangat berbakti. Dari sisi lain, Kartini tentu melihat peluang emas untuk merubah nasib dari seekor burung kecil di dalam sarang induknya menjadi seekor induk burung yang memiliki sarang sendiri – paling tidak akan lebih banyak kesempatan untuk mewujudkan visinya, apalagi calon suaminya menyetujui persyaratan yang diajukannya. Kompromi bukan berarti kalah. Ini diplomasi untuk mencapai “win-win solution”.


JOAN OF ARC

Gadis petani dari Perancis bagian timur ini hidup dari tahun 1412-1431. Cukup pendek. Joan mendapat wangsit dari Tuhan sehingga dia bisa menjadi seorang pemimpin pasukan yang membawa begitu banyak kemenangan dalam Perang 100 Tahun. Secara tidak langsung, Joan berjasa atas diangkatnya Charles VII menjadi raja. Karena dianggap membahayakan, Joan kemudian ditangkap pasukan Burgundi dan dijual ke Inggris. Joan dijatuhi hukuman melalui pengadilan yang direkayasa. Dia dituduh sebagai penyihir dan dibakar sampai mati pada usia 19 tahun. Joan selalu berpakaian laki-laki (tentu saja karena dia berperang secara fisik) dan memotong pendek rambutnya. Hal ini yang dijadikan dasar tuduhan atas dirinya. Ketika dalam penahanan, Joan juga tidak mau melepaskan pakaian perangnya untuk alasan yang masuk akal. Pakaian itu adalah satu-satunya pelindung dalam menghadapi perkosaan di dalam penjara. Dia tetap perawan sampai akhir hidupnya. Tahun 1909, namanya dipulihkan. Kemudian, dia dijadikan pahlawan nasional Perancis dan dinyatakan sebagai orang suci bagi umat Katholik. Joan bukanlah seorang feminis. Dia bahkan mengeluarkan para wanita dari barisan tentaranya. Joan adalah perempuan yang berani dan memiliki kecakapan untuk menjadi seorang pemimpin yang hebat. Kekuatannya adalah integritas, bukan ambisi.


CHRISTIN COLLINS

  10 Maret 1928, seorang anak laki-laki berusia 9 tahun menghilang. Dia bernama Walter Collins, anak dari Christin Collins, seorang single-parent. Pihak kepolisian Los Angeles (LAPD) berusaha menemukan jejak anak ini tanpa hasil. Lima bulan kemudian, sebagai usaha untuk meredam publisitas negatif, mereka memberitakan penemuan Walter. Tetapi dalam pertemuan antara ibu dan anak yang diliput oleh media, sang ibu menyadari bahwa anak yang mengaku sebagai Walter bukanlah anaknya. Kepala polisi mendesak Christin untuk “mencoba beberapa waktu” dan dia akhirnya menyetujui (mungkin karena pada saat itu tidak tampak ada kesempatan untuk menolak lebih jauh).

Lalu, Christin mencoba untuk mengajukan bukti hasil pemeriksaan gigi anaknya yang berbeda dengan anak yang diberikan kepadanya. Karena terlalu vokal dan publik mulai mencium kasus ini, kepala polisi memasukkan Christin secara paksa ke rumah sakit jiwa (mirip prosedur pembuangan untuk tahanan politik). Si anak kemudian mengaku bahwa dia adalah Arthur Hutchins yang melarikan diri dari rumah karena ingin pergi ke Hollywood. Dia mendapat ide untuk mengaku sebagai Walter karena ada yang mengatakan bahwa dia mirip Walter. Christin dibebaskan 10 hari setelah pengakuan Arthur dan mengajukan tuntutan hukum kepada LAPD sehingga kepala-kepala polisi harus turun dari jabatan.

Walter sendiri tidak pernah ditemukan. Dia ditengarai menjadi salah satu korban pembunuhan oleh seorang psikopat yang terkenal dengan kasus Wineville Chicken Coop Murders. Setelah beberapa tahun, salah seorang anak yang disangka telah tewas ternyata masih hidup dan memberi kesaksian bahwa dia dan beberapa anak berhasil lolos. Selama ini dia bersembunyi karena takut (mungkin trauma). Sejak saat itu, Christin tidak pernah berhenti berusaha menemukan anaknya karena dia yakin bahwa anaknya adalah salah satu yang berhasil melarikan diri. Jika anda menonton film Changeling, anda bisa melihat bagaimana kekuatan kasih seorang ibu mampu mengubah seorang perempuan lembut menjadi seekor singa betina – polisi satu kota pun dilabraknya.

Setelah mempelajari karakter tiga tokoh wanita perkasa dari tiga belahan dunia berbeda dengan latar belakang yang jauh berbeda pula, kesan apakah yang kita dapatkan? Mereka kuat.

Perempuan memang dilahirkan sebagai mahluk yang lebih lemah dari segi kekuatan fisik (power) tapi sangat kuat daya tahannya (endurance), baik fisik maupun mental. Dari ketiga tokoh ini, satupun tidak ada yang menyerah. Semua berjuang sampai titik darah penghabisan dengan caranya masing-masing. Kekuatan yang tersembunyi di balik kelemah-lembutan lebih berbahaya daripada kekuatan (kekerasan) yang terang-terangan.

Feminisne bisa diartikan sebagai kekuatan perempuan dalam menjalankan perannya sebagai penolong kaum laki-laki. Penolong tentu lebih kuat daripada yang ditolong. Di belakang semua tokoh laki-laki yang sukses, ternyata ada perempuan kuatnya. Barrack Obama pun mengakui bahwa sang istri, Michelle Obama, adalah wanita perkasa yang tidak akan berani ditantangnya. Jadi, siapa lagi yang perlu berambisi menjadi sama dengan kaum laki-laki? (Sinta Tj/muda-fashion.com)

0 Responses to Wanita - Wanita Perkasa

Post a Comment

Share |